Showing posts with label jepret. Show all posts
Showing posts with label jepret. Show all posts

Sunday, October 16, 2016

CARBON 2015 UNAIR, Janji Berbuah Manis




Tuing,notif pesan fb ku berbunyi. Begitu kubuka sebuah pesan berisi protes muncul.
"Mas ke jogja ni g ajak-ajak huuu...", 
"Lah maaf, Insya Allah kalo ada rezeki lagi noe :D balasku," 
"Hu, dasar mas ini", protes nya lagi"
"Siap Salah itu proyek waktu cuti hehe"
"Klo mau nulis tuh ajak-ajak lah mas, biar nhoe jg tau kek mana lah orang nulis paper tuh ha, nhoe dapat ilmunya mas dapat jariyahnya kan"
"Iya kalo bagian itu mas minta maaf, nanti mas carikan lagi proyek khusus buat noe," rayu ku.
"Hhha nhoe serius ini mas, nhoe inget ni mas blng kyk gini"
"Iya janji deh, Allah pihak ketiganya nih"
"hha iya toh pas lagi adzan isya lagi haha"

dan akhirnya percapakapan kecil ini berlanjut sampai maut menjemput.

Awalnya saya tak yakin protes berbuah janji itu bisa saya tepati. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Layaknya sebuah cerita dinovel, unjuk rasa nhoe ini menjadi awal cerita kami ke UNAIR.

Ah ya bagi yang belum tau Nhoe ini seorang gadis bugis kelahiran Tanah Beru. Berpawakan bulat gemuk manis dan bermimpi kurus. Nah selanjutnya nanti akan ada Zestvy, gadis minang yang akan melengkapi tim karya tulis kami. Sama seperti Nhoe yang berpawakan bulat gemuk manis seperti gulali. Namun bedanya mimpi nhoe menjadi kurus akhirnya terwujud sedangkan mimpi zestvy untuk kurus tidak terwujud. Memang beginilah dunia kadang tak adil.

Beberapa bulan setelah obrolan itu, Praktik Lapangan 3 (PL 3) di kota Banjar dilangsungkan. Berbekal laptop, saya memutuskan menghabiskan waktu luang selama praktik dengan berselancar di lautan internet. Tak disangka, selama saya berselancar dari kejauhan nampak sebuah poster tergulung ombak. Poster itu bertuliskan "Carbon". Call for Paper of Public Administration yang akan dilaksanakan di Universitas Airlangga (UNAIR) pada tanggal 11 Mei 2015. Saya putuskan begitu pulang PL 3 ini, kebolehan Carbon akan saya jajali. Tak lupa sekalian menepati janji agar tidak berakhir layaknya lagu sekedar janji manis.


Penampakan Poster CARBON UNAIR setelah diupdate lol

Proses seleksi Carbon ini cukup ketat meliputi seleksi paper finalis, grand finalis, presentasi karya dan akhirnya pengumuman pemenang. Maka untuk itu,  strategi menaklukan Carbon perlu disusun. Carl Von Clausewitz dalam bukunya On War menjelaskan beberapa faktor yang menurut saya penting untuk memenangkan perang (baca : Carbon). Pertama adalah kekuatan, dalam hal ini adalah pengetahuan. Kouta internet pun saya tambah demi mengetahui detail MEA. 

Selanjutnya adalah sarana dan senjata. Untuk itu terpaksa harus saya import buku dari Jogja, berjudul "Gerdema" Gerakan Desa Membangun. Untungnya teman saya di jogja bersedia mengirim buku ini.

Kemudian Waktu, wilayah dan semangat juang yang ekstrim turut menentukan kemenangan dalam Perang. Untuk itu, usai menghubungi nhoe, time line pengerjaan karya tulis pun disusun sampai dengan masa pra, eksekusi dan pasca lomba. Berkaitan dengan wilayah, saya kemudian teringat anjing. Perlu diketahui bahwa Anjing menandai wilayahnya dengan berkeliling mengencinginya. Dan ini menginspirasi saya untuk kencing sesampainya di UNAIR. Hal ini untuk memberi tanda bahwa UNAIR sudah menjadi wilayah jajahan saya hehe. (Kencingnya di toilet loh ya.. :P)

Karya Tulis pun disusun dengan semangat juang yang ekstrim selama 4 hari 3 malam. Seusainya PL-3, kitab ini (Karya Tulis) jatuh ditangan Ibu Anindita dan Bapak Muhadam Labolo untuk dikoreksi. Ditengah musim koreksi pengerjaan karya tulis, bergabungnya Zestvy di tim menjadi anugerah tersendiri. Karena memang sesi koreksi ini adalah masa yang berat. Ingin rasanya waktu itu saya mengucapkan, Selamat datang di Neraka. Sayang lidah tak sampai hati mengucapnya hihi.

Clausewitz juga mengatakan dalam bukunya bahwa perang adalah seni. Oleh karena itu seni dalam Karya Tulis kami adalah menabrakkan MEA yang berskala besar (Internasional) dengan Desa yang berskala kecil (lokal). Disamping itu kami juga berlatih rayuan maut untuk membius kesadaran para juri demi memperoleh nilai maknsimal.

Tanggal 26 April, Deathline pengumpulan karya tulis pun tiba. Sayangnya sampai pukul 12 malam proses pembenahan koreksi masih belum selesai. Paniknya bukan main saat itu. Sampai dengan pukul 3 pagi pun tanda-tanda karya tulis akan selesai masih belum terlihat. Saya kemudian memutuskan mengirim email ke panitia dengan harapan mendapatkan perpanjangan waktu.

Selang 6 jam semenjak pengiriman emai, balasan dari panitia baru saya terima. Saat itu waktu menunjukkan pukul 09.00, 27 April 2015. Isinya emailnya mengatakan pengumpulan karya tulis diundur sampai 1 Mei 2015. Yang artinya masih 4 hari lagi. WUUUUHHHH senangnya sampai ubun-ubun.

Dan Alhamdulilah ketika diumumkan hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Kami bertiga berhak berangkat ke Surabaya aka UNAIR. Masih bersambung

Tembus Finalis CARBON UNAIR

Tembus Grand Finalis CARBON UNAIR



Baca selengkapnya

Tuesday, September 20, 2016

Gunung Talang Im' Coming





UAS usai, Praktek Lapangan II tiba. Praktek Lapangan II Madya Praja akan dilaksanakan di Kabuapaten Solok dari 19 Mei sampai dengan 8 Juni 2014. Meskipun euforianya tidak sedasyat Praktek Lapangan I di kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, namun event ini tetap ditunggu Satuan Madya Praja angkatan 23 IPDN Kampus Sumatera Barat sebagai ajang refreshing dan menempa diri. Tentu setiap orang punya kepentingan masing- masing. Begitu pula dengan saya, entah ini kebetulan atau apa, saya di tempatkan di kelompok PL II kecamatan Gunung Talang. Artinya naik gunung lagi. Meskipun Rencana belum siap, setidaknya kesempatan terbuka luas. Gunung Talang layak didaki. Betapa tidak, seseorang tentu tidak akan menolak melewatkan megahnya panorama 4 danau (Danau Singkarak, Danau Talang, Danau Diatas dan Danau Dibawah.) dan 6 gunung (gunung Merapi, Singgalang, Talamau, Pasaman, Tandikat, Kerinci). Panorama ini hanya dapat dilihat di Gunung Talang.


Berikut Informasi terkait,
Gunung Talang – Merupakan gunung berapi aktif bertipe stratovolcano dengan ketinggian sekitar 2597 mdpl. Gunung yang memiliki nama lain Salasi atau Sulasi ini tercatat meletus  sejak tahun 1833 dengan letusan terakhir terjadi pada tahun 2007. Gunung talang menyajikan pemandangan alam yang cukup indah yang selalu menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya. Dari atas gunung ini salah satunya anda dapat menikmati panorama tiga buah danau yaitu danau di atas, danau di bawah dan danau talang.

Lokasi Dan Transportasi
Secara administratif gunung talang termasuk dalam wilayah Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Termasuk dalam empat kecamatan yaitu Kecamatan Lembah Gumanti, Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Danau kembar dan kecamatan Gunung Talang. Berjarak sekitar 40 Kilometer dari kota Padang atau sekitar sembilan kilometer dari arosuka, ibu kota Solok.
Untuk menuju titik awal jalur pendakian gunung talang anda dapat menggunakan angkutan desa (angdes). Dari terminal solok anda dapat mencari angdes tujuan Bukit Sileh dengan ongkosnya sekitar Rp 3.000*) dan turun di desa Jorong Pasar. Dari sini kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan ojek atau berjalan kaki menuju desa Batu Bajanjang. Di desa ini titik awal pendakian dimulai. Alternatif transportasi lainnya anda dapat pula menyewa angdes yang bisa ditemui di terminal solok. Ongkos sewa sekitar Rp 450.000*) untuk perjalanan antar jemput. Jadi  tidak perlu repot lagi mencari transportasi saat perjalanan pulang karena angdes akan datang menjemput, sesuai dengan waktu penjemputan yang telah disepakati.


Wisata
Karakteristik gunung talang merupakan gunung api aktif dengan vegetasi hutan hujan tropis dan cadas di ketinggian 2500 mdpl ke atas. Hutan gunung ini masih cukup alami dengan banyak kehidupan hewan dan tumbuhannya. Menjelang bulan purnama hutan ini akan ramai dengan suara-suara monyet liar karena merupakan waktu mereka kawin. Selain itu pula suara-suara kicau burung akan sering terdengar selama pendakian.

Awal pendakian dimulai dari desa Batu Bajanjang melintasi ladang penduduk dengan pemandangan hijau memanjakan mata. Medan yang dilalui masih landai dengan kondisi jalur yang sudah di semen. Setelah 60 menit perjalanan, nantinya akan tiba di sumber air yang terletak diantara ladang penduduk. Disini dapat mengisi perbekalan air karena di perjalanan selanjutnya akan susah ditemui sumber air lagi.

Dari sumber air ini perjalanan  selanjutnya akan mulai masuk hutan dengan vegetasi tumbuhan menjalar, ilalang, pohon pandan liar dan pepohonan rapat lainnya. Terdapat banyak cabang jalur pendakian disini, namun tidak perlu khawatir karena terdapat satu jalur yang cukup jelas dan lebar yang bisa anda pilih. Harap berhati-hati saat melintasi sepanjang jalur ini karena banyak binatang pacat yang sering menempel di kaki, sebaiknya sering-seringlah untuk memeriksa kaki anda. Selama perjalanan anda akan melintasi beberapa lahan datar yang bisa digunakan sebagai shelter untuk mendirikan tenda.

Sekitar 20 menit pendakian dari shelter terakhir (2136 mdpl) maka tibalah anda di lokasi Cadas (2500 mdpl). Tempat ini berupa lahan bebatuan dengan vegetasi yang sudah terbuka. Terdapat pula sebuah rongga di sela bebatuan yang mengeluarkan asap belerang.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju puncak 1. Selama perjalanan ini anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang lebih terbuka. Hiasan bunga edelweiss dan cantigi yang tumbuh di sepanjang jalur pun akan turut menemani anda. Terdapat sebuah lahan datar yang cukup jika anda ingin mendirikan tenda di jalur ini.
)
Tiba di puncak 1 pemandangannnya lebih luar biasa lagi. Dari sini anda dapat menyaksikan keindahan panorama danau di atas, danau di bawah dan danau talang. Dari kejauhan tampak pula beberapa gunung lainnya yang berdiri kokoh, seperti gunung Marapi, Singgalang, Tujuh dan Kerinci. Tentunya panorama indah ini cukup untuk membalas penat yang sudah anda rasakan selama pendakian.

Berlanjut dari puncak 1, anda dapat kembali berjalan menuju puncak sejati yang dapat ditempuh sekitar 60 menit lagi. Kondisi jalur yang dilalui cukup terjal dengan vegetasi tumbuhan semak, melintasi alat seismograf BMKG. Tiba di puncak sejati, kembali anda dapat menikmati panorama alam yang disuguhkan. Disini juga terdapat lokasi lahan datar yang cocok untuk mendirikan tenda.
Puas bermain dan menikmati suguhan di puncak sejati, anda dapat turun menuju kawah gunung talang yang berada di sisi selatan. Di kawah ini anda dapat kembali bersantai sambil menikmati bekal makanan yang dibawa.

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu

Tips
  1. Jika datang berombongan, sebaiknya anda menyewa angdes karena transportasi menuju ke desa terdekat masih minim.
  2. Sebelum berangkat sebaiknya carilah informasi terbaru tentang gunung talang yang terbilang masih aktif ini.
  3. Melaporlah kepada kepala desa setempat sebelum memulai pendakian.
  4. Bijaklah dalam penggunaan air karena sumber air sangat minim di gunung ini.
  5. Berdoalah sebelum memulai pendakian dan hentikan pendakian jika cuaca buruk.

    Titik Koordinat
             - telaga talang; 8690,9153
            – puncak talang; 8712,9175
            – cadas talang; 8742,9207
            – vegetasi talang; 8765,9218
            – shelter pos 3; 8818,9239
            – pintu rimba; 8861,9306
            – air panas; 8923,9344  
     

Pesona pemandangan alam yang disuguhkan gunung Talang dijamin akan membuat mata tidak berani terpejam. Jadi bagaimana tertarik ikut?


sumber :
http://deniamarta.blogspot.com/2013/05/gunung-talang.html
http://www.wisatagunung.com/blog/gunung-talang-sumatera-barat/
Baca selengkapnya

Sunday, April 20, 2014

Next Journey : Gunung Kerinci maybe

Cuti bisa jadi agenda menaklukan kerinci. Walaupun Entah kapan tapi tidak ada salahnya untuk diposting. 
Berikut informasi yang didapat dari Wikipedia

Gunung Kerinci (juga dieja "Kerintji", dan dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Terletak di Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra.
Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl, di sini pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh.
Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009.

Topografi

Gunung Kerinci berbentuk kerucut dengan lebar 13 km (8 mil) dan panjang 25 km (16 mil), memanjang dari utara ke selatan. Pada puncaknya di sisi timur laut terdapat kawah sedalam 600 meter (1.969 kaki) berisi air berwarna hijau. Hingga sekarang, kawah yang berukuran 400 x 120 meter ini masih berstatus aktif.
Gunung Kerinci termasuk dalam bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS adalah sebuah wilayah konservasi yang memiliki luas 1.484.650 hektare dan terletak di wilayah empat provinsi, yang mana sebagian besarnya berada di wilayah Jambi. TNKS sendiri merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan di Pulau Sumatra.
Gunung Kerinci merupakan gunung tipe A aktif yang berada sekitar 130 kilometer arah Selatan Kota Padang. Tipe Letusan : Tipe Hawaii Bentuk Gunung : Gunung Strato atau Kerucut Tipe Erupsi : Erupsi Eksplosif Keaktifan Gunung : Tipe A

Flora dan Fauna

Tumbuhan dataran rendah didominasi oleh beberapa jenis mahoni, terdapat juga tumbuhan raksasa Bunga Raflesia Rafflesia Arnoldi dan Suweg Raksasa Amorphophallus Titanum. Pohon cemara juga tumbuh di Gunung Kerinci. Dengan Taman Nasional Leuser, taman ini terhalang oleh Danau Toba dan Ngarai Sihanok. Sehingga beberapa binatang yang tidak terdapat di Taman Leuser ada di sini, seperti tapir (Tapirus indicus) dan kuskus (Tarsius bancanus).
Banyak terdapat binatang khas Sumatera seperti gajah, badak sumatera, harimau, beruang madu, macan tutul, kecuali orang utan. Berbagai primata seperti siamang, gibbon, monyet ekor panjang, dan Presbytis melapophos. Terdapat juga 140 jenis burung.

Pendakian

Gunung ini dapat ditempuh melalui darat dari Jambi menuju Sungaipenuh melalui Bangko. Dapat juga ditempuh dari Padang, Lubuk Linggau, dan Bengkulu. Dengan pesawat terbang dapat mendarat di Padang atau Jambi.
Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna dapat ditemui mulai dari dataran rendah hingga puncak Gunung Kerinci, tidak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Pendakian ke puncak Gunung Kerinci memakan waktu dua hari mulai dari Pos Kersik Tuo.
Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro berada pada ketinggian 1.400 mdpl dengan penduduk yang terdiri dari para pekerja perkebunan keturunan Jawa, sehingga bahasa setempat adalah bahasa Jawa. Dari Kersik Tuo kita menuju ke Pos penjagaan TNKS atau R10 pada ketinggian 1.611 mdpi dengan berjalan kaki sekitar 45 menit melintasi perkebunan teh.
Pondok R 10 adalah pondok jaga balai TNKS untuk mengawasi setiap pengunjung yang akan mendaki Gunung Kerinci. Dari R10 kita menuju ke Pintu Rimba dengan ketinggian 1.800 mdpl, Jaraknya sekitar 2 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Medannya berupa perkebunan/ladang penduduk, kondisi jalan baik (aspal) sampai ke batas hutan.
Pintu Rimba merupakan gerbang awal pendakian berada dalam batas hutan antara ladang dan hutan heterogen sebagai pintu masuk. Pintu Rimba berada pada ketinggian 1.800 mdpl. Di sini ada lokasi shelter dan juga lokasi air kurang lebih 200 meter sebelah kiri. Jarak tempuh ke Bangku Panjang 2 km atau 30 menit perjalanan, lintasannya agak landai memasuki kawasan hutan heterogen.

Pos Bangku Panjang dengan ketinggian 1.909 mdpl, terdapat dua buah shelter yang dapat digunakan untuk beristirahat. Menuju Batu Lumut medan masih landai jarak 2 km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit melintasi kawasan hutan. Pendaki dapat beristirahat di Pos Batu Lumut yang berada di ketinggian 2.000 mdpl, namun di sini tidak ada shelter-nya. Terdapat sungai yang kadang kala kering di musim kemarau.
Untuk menuju Pos 1 yang berjarak sekitar 2 km dari Batu Lumut kita membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Jalur memasuki kawasan hutan yang lebat dan terjal dengan kemiringan 45 hingga 60 derajat.

Pos 1 ini berada di ketinggian 2.225 mdpl dan terdapat sebuah pondok yang dapat digunakan untuk beristirahat. Untuk menuju Pos 2 jarak yang harus ditempuh sekitar 3 km dengan waktu tempuh 2 jam. Di lintasan ini kadang kala dijumpai medan yang terjal dengan kemiringan hingga 45 derajat tetapi masih bertemu dengan medan yang landai.
T
erdapat sebuah Pondok yang sudah tua di Pos 2 yang berada di ketinggian 2.510 mdpl, di sini pendaki dapat beristirahat. Untuk menuju Pos 3 jarak yang harus ditempuh adalah 2 km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Di lintasan ini dapat kita jumpai tumbuhan paku-pakuan dengan kondisi hutan yang agak terbuka.

Terdapat Pondok yang sudah rusak tinggal kerangkanya di Pos 3 yang berada di ketinggian 3.073 mdpl. Di tempat ini pendaki dapat beristirahat dan masih nyaman untuk mendirikan tenda karena masih terlindung oleh pepohonan. Waktu tempuh untuk menuju puncak dari pos ini sekitar 4 jam.

Untuk menuju ke Pos 4 jarak yang harus ditempuh sekitar 1,5 km, memerlukan waktu sekitar 1,5 jam. Kondisi jalur berupa bekas aliran air sehingga akan berubah menjadi selokan bila turun hujan. Pos 4 berada pada ketinggian 3.351 mdpl, tempat ini cukup lapang dan bisa untuk mendirikan beberapa tenda, namun cuaca di sini sering kali tidak bersahabat. Lintasan selanjutnya untuk menuju puncak berupa pasir dan batuan cadas. Jarak tempuh menuju puncak 2 km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Di lintasan ini pendaki perlu ekstra hati-hati.
Baca selengkapnya

Singgalang Ending



Senang, sebel, dongkol, serta puas menjadi gambaran yang pas untuk saat ini. Betapa tidak, coba bayangkan bila selama pendakian bau kentut selalu tercium oleh hidung. Selain itu,pasti sebel rasanya bila di perjalanan, ada lebah yang mencicipi rasa kepala kita. Apalagi ditambah keseleo atau terantuk batu. Itu dirasakan tim 12, (Robi Zam-zam, Cendy, Arya, Andrew, Alfa, Yezkiel, Arifin Siregar, Rizky Pohan, Fatur, Feishal, Kadek Bayu, dan Bang Reza)

Puas menikmati panorama gunung singgalang dan telaga dewi, Tim 12 memutuskan turun gunung. Usai memanjatkan doa memohon keselamatan, perjalanan pun dimulai. Lumut hijau pepohonan seakan mengucapkan selamat jalan. Batang pohon di pinggiran jalan seakan tidak kalah ramai ucapkan salam perpisahan berharap bertemu enta kapan. Sampai di Cadas tim 12 memutuskan berhenti. Rapikan tenda, memasak, serta bercengkerama menjadi pilihan tepat sebagai kegiatan terakhir sebelum benar-benar meninggalkan gunung.

 Uda Agung, purna IPDN angkatan 18. Orangnya gemuk, sok gaul namun sangat bersahabat. Entah kebetulan, atau bagaimana seakan beliau memang sudah menunggu kedatangan kami. Obrolan semakin bertambah hangat dan semarak. Beliau bercerita banyak. Mulai dari bagaimana IPDN di zamannya sampai dengan pekerjaannya. Ditambah lagi, beliau menawarkan untuk menemani pendakian kami selanjutnya, terlebih jika mendaki puncak tawang. Kenapa puncak tawang? Ya, 6 Danau dapat dilihat dari sana. Danau Atas bawah, Danau singkarak, danua maninjau, dan lainnya dapat dilihat secara bersamaan. Bayangkan betapa eloknya. Selain itu dari puncak, mata akan sangat dimanjakan oleh bentangan awan di bawah langit. Pasti seakan terbang rasanya, bahkan perasaan semakin dekat dengan Allah sangat terasa.

Usai berfoto ria bersama uda Agung, Tim 12 sepakat melanjutkan kembali perjalanan menuruni gunung. Setapak demi setapak, lompatan demi lompatan, hanya sayang cuaca tidak mendukung. Mendung, disusul gerimis, turun begitu saja membasahi jalan. Semangat tim 12 masih saja belum pudar. Langkah dipercepat, Lompatan diperlebar. Seleksi alam dimulai. Satu demi satu anggota tim memutuskan berhenti sejenak. Ada yang Boker di tengah hutan, disengat lebah ataupun teratuk batu. Saya ingat bagaimana bang Reza menerjang tanda medan dari batang kayu yang berbentuk silang. Atau bagaimana Rizky Pohan berpura-pura menjadi patung untuk mengelabui lebah. Ditambah lagi ketika lebah mencicipi kepala bang reza yang kelihatannya lezat, serta bagaimana Rizky Pohan nyaris masuk jurang karena dikerjar lebah sangat membekas di kepala saya.

Waktu terus berlalu. Hujan lebat memandikan Singgalang dengan sempurna. Air mengalir dari puncak sampai kaki. Gerakan tim 12 semakin menggila tapi pasti. Tidak peduli mau jatuh ataupun terpeleset tim 12 maju terus. Setelah sekian lama menuruni gunung, akhirnya sampai juga di kaki gunung. Titik start pendakian,  Stasiun Pemancar RCTI Pandai Sikek. Cobaan masih belum berakhir. Tim 12 masih harus berjalan sekitar 2km menuju masjid, tempat istirahat sementara.

Sementara anggota tim yang lain melanjutkan perjalanan. Saya memilih berhenti di Stasiun Pemancar TVRI untuk sekedar buang hajat. Lilitan perut memaksa begitu. Ternyata penjaga di Stasiun TVRI itu orang Sunda, ditambah bos beliau ternyata orang Jogja sama dengan saya. Dirasa cukup, saya pamit dan memutuskan menyusul teman-teman menuju masjid.

Apes, mungkin kata yang pas. Setelah sekian lama jalan tergopoh sembari memegangi perut perih. Akhirnya saya sampai di masjid. Begitu ganti baju, hawa dingin menyerang. Brrrrrrr.. badanku menggigil hebat. Namun usaha hawa dingin berhasil digagalkan oleh Arya dengan segelas minuman hangatnya. Perlindungan dari pijatan Andrew juga ikut serta membendung serangan hawa dingin.

"Robi dimana?", tanya salah satu anggota tim. Setelah sekian lama dicari, layaknya seorang pahlawan dia muncul dengan angkot penjemput. "Ayo lekas beres-beres dan pulang" teriaknya. Dinginnya sore melepas kepulangan kami menuju kampus tercinta. Dengan membawa bungkusan plastik merah besar teman-teman memutuskan pulang ke kampus. Sementara saya memutuskan istirahat sejenak di rumah si supir angkot karena badan yang kurang sehat. Entah berapa banyak pakaian kotor yang harus dicuci tukang loundry. Hati puas itu yang terpenting

Sebel dan dongkol itu pasti. Namun sebagai petualang sejati tidak akan pernah kapok mencoba lagi. dan pasti ditunggu gunung manalagi yang akan didaki.

Regards

Fatur
Baca selengkapnya

Singgalang koma,





Singgalang masih koma, walaupun kegiatan pendakian berakhir 19 April 2014 pukul 16.00 kemarin, tapi keinginan untuk kembali pasti. Dengan jalur pendakian di Koto Baru (Pandai Sikek)  kami berangkat. Titik Start : Stasiun Pemancar RCTI Pandai Sikek dengan Lama pendakian 6 jam.   Start dimulai pukul 17.00. Medan yang harus dilalui termasuk sulit ditambah guyuran hujan membuat suasana semakin panas. Demi mencapai puncak kami harus melewati setidaknya 120 tiang listrik. Kenapa tiang ya? Ya karena memang dari kaki gunung sampai puncak tertancap tiang listrik yang menghubungkan listrik provinsi sumatera barat ini. Saya berpikir bagaimana menancapkan tiang-tiang listrik di gunung setiinggi 2,877 meter itu. Anekdot yang bergelantungan dipikiran kami, mungkin tiang-tiang itu dibawa menggunakan helikopter. Tapi tentu akan memakan banyak biaya untuk itu. Bayangan kami selanjutnya, ada sekelompok tim pln yang mampu memanggul tiang listrik, kemudian membawanya sambil bersiul dan berjalan santai melewati medan gunung singgalang.



Setalah sekian lama mendaki akhirnya kami tim 12 (Fatur, Feisal, Yezkiel, Robi, Arya, Kadek Bayu, Pohan, Arifin, Cendy, Andrew, Alfa dan bang Reza) memutuskan istirahat di cadas. Sambutan meriah dari mapala UNP membuat suasana tersendiri di kala malam itu. Dua buah tenda doom didirikan, siap untuk ditiduri. Tidak lupa juga Ritual mengisi perut dengan sajian sederhana kami bantai. Kopi, mie instan dan roti pun ludes.

Dinginnya pagi tidak membuat semangat kami surut. Bangun tidur, guling-guling di tenda menjadi ritual memanggil kembali roh kami. Ucap syukur "Alhamdulilah" begitu saja lepas dari mulutku. Amazing, pemandangan di pagi itu. Dari atas cadas terlihat langit pagi dengan awan merah menghiasi. Mata semakin dimanjakan dikala kami menembus hutan menuju telaga dewi. Pohon besar berhias jamrud hijau terbentang selama perjalanan. Lumut disana sini menambah keelokan tersendiri.

Telaga Dewi sungguh memukau pagi itu. sekitar pukul 08.00 kami tiba disana. Alhamdulilah, senjata berlensa kami keluarkan, Jepret! Jernihnya memantulkan pemandanangan hutan, Jepret. Orang-orang ambil pose, Jepret. Mahluk hitam, dengan kolor alias si tuyul hitam muncul di telaga Jepret. Tawa, Senyum dan canda ikut menyumbang tuk memenuhi memori kamera. Sayang umur kamera kami tidak lama. Habis baterai apa daya?


Tenaga habis tapi puas. Kami memilih tidur sambil menikmati bentangan karya Allah di puncak gunung. Tentu sembari menanti waktu untuk pulang.
Masih koma,

fatur ^^
Baca selengkapnya

Friday, April 18, 2014

Singgalang begin


Akhrinya izin bermalam juga :D, agak berbeda dengan izin bermalam yang lalu kali ini penulis akan melaksanakan tadabur alam. Mensyukuri karya Allah dengan mendaki gunung singgalang. Rencana akan berangkat nanti pukul 4. Banyak sebab terutam karena ini hari Jum'at. 
Berikut keterangan seputar Gunung Singgalang :


Gunung Singgalang merupakan sebuah
Dari bentuknya, gunung ini sangat mirip dengan Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai telaga di puncaknya yang merupakan bekas kawah, Telaga itu dinamai Telaga Dewi. Singgalang sudah tidak aktif lagi dan hutannya sangat lembap karena kandungan air yang banyak.
Tinggi : 2877 mdpl.
· Letak : Kab. Agam, Sumatra Barat
· Karakteristik : Gunung api tidak aktif, ditutupi hutan hujan tropis, trek pendakian terjal dan terdapat 2 buah telaga di daerah puncak.
gunung yang terdapat di provinsi Sumatera Barat, Indonesia dan mempunyai ketinggian 2,877 meter. Gunung Singgalang mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
· Jalur Pendakian :
* Koto Baru (Pandai Sikek)
Titik Start : Stasiun Pemancar RCTI Pandai Sikek. Lama pendakian normal 6 jam
* Balingka
Titik Start : desa Panambatan, Balingka. Lama pendakian normal 8 jam.
* Toboh (Kenagarian Malalak)
Titik Star : Jorong Toboh Kenagarian Malalak. Lama pendakian 12 jam.

Semoga perjalanan kali ini berjalan lancar, amin..
Baca selengkapnya